Hari 1: Kru kami akan siap menjemput anda di Hotel, Airport, Pelabuhan, Stasiun kereta api ataupun terminal bus dan membawa anda berkendara menempuh jarak 70km ke sisi selatan kota Banyuwangi.

Pantai ini dikenal karena sebuah bukit kecil di seberang pantai dengan ketinggian sekitar 200m bertanah merah yang tertutup tumbuhan hijau menjadikan warna aslinya tidak terlihat lagi. Bukit ini dapat dikunjungi dengan berjalan kaki hanya pada saat air laut surut, kawasan ini merupakan salah satu tempat yang terkena gelombang tsunami pada awal 90an tapi seiring berjalannya waktu warga local dan pihak Perhutani yang punya kuasa akan pengelolaan tempat ini mengubah sedikit demi sedikit tampilan wajah pantai dan lingkungan sekitarnya menjadi lebih indah dan layak untuk di kunjungi.

Pemerintah kota banyuwangi memberikan perhatian penuh terhadap pengembangan kawasan wisata ini, salah satunya dengan memperbaiki akses jalan menuju lokasi. Pada akhir 2012 lalu, Pemkab Banyuwangi telah memperkenalkan Pantai Pulau Merah ke dunia internasional melalui beberapa international sport competition event. Pantai Pulau Merah berpasir putih terbentang sepanjang tiga kilometer sehingga sangat sesuai untuk wisata keluarga namun tidak di anjurkan untuk berenang khususnya anak-anak di karenakan ombak yang cukup tinggi.

Ombak di kawasan Pulo Merah cukup menantang dengan ketinggian antara 3-5m pastinya sangat cocok untuk anda yang menyukai olahraga surfing. Melanjutkan tour ke tujuan berikutnya yaitu Taman Nasional Alas Purwo.

Alas Purwo merupakan kawasan hutan yang mempunyai berbagai macam tipe ekosistem yang tergolong utuh di Pulau Jawa. Ekosistem yang dimiliki mulai dari pantai (hutan pantai) sampai hutan hujan  dataran rendah, hutan mangrove, hutan bambu, savana dan hutan tanaman. Disamping kaya akan jenis-jenis flora, Taman Nasional Alas Purwo juga kaya akan jenis-jenis fauna daratan, baik kelas mamalia, aves dan herpetofauna (reptil dan amfibi). Ditemukan 50 jenis mamalia di Taman Nasional Alas Purwo. Beberapa jenis mamalia yang dijumpai di kawasan TNAP yaitu banteng , rusa, babi hutan, kijang, macan tutul, lutung, monyet ekor panjang dll.

Dan ditemukan sekitar 302 jenis burung. Beberapa jenis burung yang mudah dilihat diantaranya Elang laut perut putih, ayam hutan hijau , ayam hutan merah ,Merak hijau dll.

Masyarakat sekitar taman nasional sarat dan kental dengan warna budaya “Blambangan”. Mereka sangat percaya bahwa Taman Nasional Alas Purwo merupakan tempat pemberhentian terakhir rakyat Majapahit yang menghindar dari serbuan kerajaan Mataram, dan meyakini bahwa di hutan taman nasional masih tersimpan Keris Pusaka Sumelang Gandring.

Oleh karena itu, tidaklah aneh apabila banyak orang-orang yang melakukan semedhi maupun mengadakan upacara religius di Goa Padepokan dan Goa Istana. Di sekitar pintu masuk taman nasional (Rowobendo) terdapat peninggalan sejarah berupa “Pura Agung” yang menjadi tempat upacara umat Hindu yaitu Pagerwesi. Upacara tersebut diadakan setiap jangka waktu 210 hari.

Kawasan Alas Purwo ditetapkan sebagai taman nasional sejak tahun 1992 dengan luas keseluruhan 43.420 ha dan destinasi utama untuk berwisata adalah savanna Sadengan di mana anda dapat menikmati aktifitas kwanan banteng dan nerak di setiap pagi atau sore hari ketika mereka berkumpul untuk mencari makan. Mengakhiri tour dengan mengantar anda kembali ke Hotel dan menginap.

Hari 2: Keberangkatan di pagi hari dengan dengan menggunakan kendaraan 4WD menempuh perjalanan selama 1,5 jam untuk mencapai area parker Paltuding (1850m). Kawah Ijen yang terletak 45km dari kota Banyuwangi  yang mana merupakan tempat masuk paling populer bagi pengunjung. Pada menit menit terakhir berkendara Anda akan melewati salah satu hutan hujan yang terbaik di Jawa dengan vegetasi yang beragam dan jika beruntung Anda dapat menemukan monyet Jawa hitam bergelantungan di pohon dan yang paling mengesankan ketika Anda melihat Puma menyeberang jalan di tambah dengan berjajarnya pohon pakis langka yang akan membuat perjalanan anda lebih mengesankan.

Di tempat parkir di mana Anda memulai untuk mendaki sejauh 3.3km suhu rata-rata antara 14-20 derajat Celsius. Pendakian sendiri terbagi dalam 3 bagian yang berbeda, pada awal Anda akan menemukan sebuah bagian yang mudah untuk 900mtrs lalu di lanjutkan dengan pendakian yang sedikit terjal sekitar 1,4km dan pada bagian akhir anda akan menemukan trek yang hamper datar sekitar 1km dan pada dasarnya diperlukan 1,5h untuk mencapai puncak gunung Ijen (2386m). Semua akan sebanding ketika Anda tiba di puncak dari sini Anda akan menikmati pemandangan yang menakjubkan, Kawah Ijen berisi dengan 32jt-33jt meter kubik air asam hijau kebiru-biruan di dalamnya dan itu menjadi danau asam paling besar di dunia. Pada sudut kiri danau dengan kedalaman sekitar 325m dari puncak ada area lereng kuning yang disebut sulfatara di mana penambang menghasilkan batu kuning terang yang disebut Sulphur/belerang, belerang itu sendiri dihasilkan oleh gas belerang yang berhembus setiap detik dari perut bumi kemudian penambang menyalurkan gas ke dalam pipa untuk kondensasi dan pada sisi lain dari pipa mereka hanya menunggu beberapa jam untuk pemprosesan dari belerang cair menjadi belerang beku. Semua proses dilakukan secara manual tidak ada mesin atau teknologi tinggi, ketika mereka mendapatkan bongkahan belerang mereka akan memotong menjadi ukuran-ukuran yang lebih kecil untuk memudahkan saat mereka memasukkan ke keranjang bambu atau karung plastik. Mereka dapat memuat 60kg-100kg belerang dengan menaiki dan menuruni bukit untuk mencapai tempat pengumpulan belerang yang mana lokasinya persis sekitar 100mtr dari tempat parkir. Mengakhiri tour dengan mengantar anda ke Hotel dan menginap.

Hari 3: Setelah sarapan kru kami akan membawa anda untuk berkunjung ke perkebunan Kaliklatak. Kaliktatak adalah sebuah perkebunan yang terletak 15 kilometer sebelah barat laut kota Banyuwangi.

Wisata agro Kaliklatak merupakan perintis wisata agro di Banyuwangi dan bahkan di Indonesia. Perkebunan ini sudah berdiri sejak lama. Pada awalnya pemilik pertamanya adalah sebuah perusahaan Belanda Mij Moorman & Co, namun pada tahun 1957 perkebunan ini berpindah tangan ke R.Soehoed Prawiroatmodjo, seorang pengusaha lokal dan khusus bergerak di bidang tanaman kopi, karet dan kakao. Oleh tangan dingin beliau, perkebunan Kaliklatak berkembang pesat di bidang tanaman lada, cengkeh, pala, vanili, kayu manis, keningar, kayu putih, kelapa, buah-buahan seperti pisang dan jeruk.

Salah satu daya tarik agro wisata Kaliklatak adalah adanya peragaan pengolahan kopi mulai dari penanaman, pemeliharaan, pemetikan biji kopi dan pengolahan menjadi biji kopi siap konsumsi. Demikian juga pengelolaan tanaman karet mulai pengambilan getah sampai dengan pemrosesan menjadi bahan dasar pembuatan produk karet lainnya. Semuanya bisa diamati oleh pengunjung.Jadi selain menikmati panorama alam, pengunjung juga pulang dengan mendapat ilmu dan pengalaman menarik.

Perkebunan Kaliklatak memiliki luas sekitar 1013 hektar, terletak di ketinggian 450 M dari permukaan laut membuat hawa disini sangat sejuk, berlatar belakang Gunung Ranti. Bila pengunjung naik hingga ke tempat yang tertinggi, yaitu Hargosonyo, akan terlihat pemandangan indah kota Banyuwangi, Selat Bali, Semenanjung Blambangan dan pulau Bali. .

Untuk fasilitas penunjang tersedia perumahan untuk karyawan, taman kanak-kanak, sekolah, gedung kesenian dan oleharga, tempat ibadah (mesjid dan gereja), dan pasar. Gedung kesenian dan olahraga dimanfaatkan untuk latihan menari, karawitan, senam, dan olahraga yang masing-masing digiatkan untuk menjaga kesehatan dan kebugaran fisik. Mengakhiri tour dengan mengantar anda ke hotel atau tujuan anda berikutnya, akhir dari pelayanan kami.